Rabu, 07 Januari 2015

Fenomena Bunga Es (Frost Flowers)

Bunga Es atau Frost Flowers sangatlah indah namun sayangnya, bunga seperti ini sangatlah langka, karena butuh kondisi yang tepat agar bunga es ini tebentuk. Bunga es yang terlihat pada tanaman dan kayu ini bukanlah embun (uap air) yang membeku yang biasa disebut frost. Jadi penamaannya agak sedikit membuat bingung.


Bunga es biasanya terbentuk pada pagi hari di akhir musim gugur atau awal musim dingin ketika lapisan es yang sangat tipis didorong keluar dari batang tanaman atau kadang-kadang kayu. Ekstrusi ini menciptakan pola indah yang melengkung dan melipat dan menjadi mirip dengan bunga yang indah sehingga fenomena ini dinamakan bunga es.

Awal musim dingin dan akhir musim gugur adalah waktu yang optimal bagi bunga es untuk terbentuk, karena suhu udara harus berada pada titik beku (atau dibawah) namun suhu tanah harus lebih hangat atau belum berada pada titik beku.


Ketika suhu udara mencapai titik beku (atau di bawah titik beku) cairan (getah) di batang tanaman akan mengembang, menyebabkan celah tipis terbentuk sepanjang batang.

Air kemudian didorong keluar (merembes) melalui celah tersebut oleh aksi kapiler dan membeku saat kontak dengan udara. Karena semakin banyak air yang didorong keluar, lapisan es tipis pun terdorong menjauh dari batang, menyebabkan "kelopak" tipis bunga es terbentuk.


Efek bunga es juga terjadi pada pohon berkayu, meskipun kayu tersebut telah menjadi pagar atau atau gerbang, seperti yang terlihat di atas. Dalam hal ini air diekstrusi melalui pori-pori di kayu (bukan celah) membentuk dawai/benang es yang tipis yang terlihat sangat mirip rambut sehingga disebut sebagai "rambut es" atau "jenggot beku".


Jika Anda menemukan bunga es, hati-hati! Janganlah mencoba untuk mengambilnya, jika Anda memiliki kamera atau ponsel, abadikanlah dia sebagai gantinya. Bunga es yang sangat halus biasanya akan pecah bila disentuh.

Tidak hanya itu, karena dibuat seperti lembaran tipis es, mereka akan mencair saat matahari terbit lebih tinggi di langit. Anda mungkin tidak akan melihat bunga es lagi pada hari berikutnya, kecuali jika kondisinya tepat. Jadi besar kemungkinan bahwa bunga es pertama yang Anda lihat adalah bunga es terakhir Anda.















Sumber : apakabardunia.com

Kamis, 15 Mei 2014

Air Ini Mengalir Zig-zag di Udara

Normalnya air akan mengucur secara lurus dari dari atas ke bawah mengikuti gaya gravitasi, namun air dalam percobaan ini malah mengucur secara zig-zag ke bawah.

Bagaimana ini bisa terjadi? jawabanya sederhana, sains!

Brusspup mengadakan uji coba untuk mengeksplorasi apa yang terjadi jika aliran air terkena speaker audio yang menghasilkan gelombang sinus (sine wave) 24Hz. Hasilnya adalah air yang mengalir secara zig-zag.

Tapi tunggu dulu, air yang mengalir tadi sebenarnya tetap mengalir secara lurus, tidak zig-zag seperti yang anda kira. Nah lo? Kuncinya adalah penggunaan kamera yang frame ratenya disesuaikan dengan frekuensi yang dihasilkan sine wave tadi (24hz), sehingga di kamera, air terlihat mengalir zig-zag.

Untuk lebih detilnya, silahkan lihat video berikut ini:





source: forum.viva.co.id

Kamis, 08 Mei 2014

"Leidenfrost Effect" Percobaan Reaksi Fisika yang Menakjubkan

Sebagian dari Anda mungkin sudah mengenal Efek Leidenfrost, yaitu fenomena dimana cairan yang kontak dengan suatu bahan yang jauh lebih panas dari titik didih cairan itu, akan menghasilkan lapisan uap isolasi yang menjaga cairan agar tidak menguap dengan cepat.

Fenomena ini paling sering terlihat ketika memasak, setetes air dalam panci yang suhunya jauh diatas titik didih air atau di atas titik Leidenfrost, maka tetesan air tersebut akan bergulir di panci dan membutuhkan waktu lebih lama untuk menguap daripada di dalam panci yang suhunya dibawah titik Leidenfrost (tapi masih di atas titik didihnya).


Efek ini juga menjelaskan mengapa tangan kita baik-baik saja walaupun dituangkan nitrogen cair. Nitrogen memiliki titik didih −196°C, dan suhu tubuh manusia adalah sekitar 37°C, ini sangat panas bagi nitrogen.

Lalu, saat bertemunya nitrogen cair dengan tangan, efek Leidenfrost pun terjadi. Nitrogen cair akan tertahan oleh uapnya sendiri, ini menyebabkan tetes-tetes nitrogen cair menjauh dari permukaan kulit.


Akan tetapi, ini tidak akan terjadi selamanya, bila kita terlalu lama menuangkan nitrogen cair ke tangan kita, tangan akan mendingin dan menyebabkan nitrogen cair tidak menguap secepat sebelumnya.

Jadi, ketika setetes air menyentuh permukaan yang panas (sedikit diatas titik didihnya), tetes air tersebut dengan cepat menguap.


Tapi jika tetesan air dijatuhkan/menyentuh permukaan yang sangat panas (jauh diatas titik didihnya), hanya sedikit dari lapisan luar tetesan itu yang menguap, menghasilkan efek isolasi yang menyebabkan tetesan sisa bergulir di permukaan yang panas.

Nah, ketika tetesan air menghantam permukaan yang sangat panas tapi halus, mereka cenderung bergulir atau melompat-lompat ke arah yang acak. Namun para peneliti telah menemukan bahwa jika permukaan yang sangat panas memiliki tekstur bergerigi, tetesan hanya bergerak dalam satu arah saja.

  

Dua orang mahasiswa dari universitas Bath, Carmen Cheng dan Matthew Guy, membangun sebuah labirin alumunium yang permukaannya bergerigi kemudian dipanaskan diatas titik Leidenfrost dari air.

Ketika tetesan-tetesan air dijatuhkan pada labirin ini, tampak seolah-olah tetesan-tetesan air tersebut dapat melintasi lorong-lorong labirin yang kompleks dengan sendirinya. Lihatlah videonya dibawah ini:



Sumber: apakabardunia.com