Tampilkan postingan dengan label Artikel Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Guru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 September 2013

Hindari Berbohong Maka Anda Akan Sehat

Agar sehat, para dokter akan menyarankan Anda untuk mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, ditambah olahraga secara teratur. Namun, bila Anda ingin sehat lebih optimal, cobalah untuk SELALU JUJUR DAN MENGURANGI KEBOHONGAN. Kesimpulan itu didapat ANITA KELLY, profesor psikologi dari UNIVERSITY OF NOTRE DAME setelah melakukan studi terhadap 110 responden. Dalam penelitiannya, Kelly meminta setengah dari responden untuk mengatakan hal-hal yang tidak benar atau berbohong selama 10 minggu, sementara sisa responden tidak diberikan instruksi khusus mengenai berbohong.

Ketika grup yang kedua diminta berbohong di minggu-minggu tertentu, sebagian mereka mengeluhkan sakit kepala, rasa tak nyaman di tenggorokan, otot tegang, kekhawatiran, dan problem-problem lain pada kesehatan ketimbang kelompok lain.

"Kaitannya cukup jelas. Tidak berbohong memang jelas membantu orang-orang lebih sehat," kata Kelly.

Studi sebelumnya mengungkap, secara rata-rata, masyarakat AS akan berbohong setidaknya 11 kali dalam seminggu, mulai dari berbohong dengan dalih kebaikan, berbohong untuk menyelamatkan muka, hingga memuji orang lain dengan kebohongan untuk tujuan tertentu.

"BERBOHONG BISA MENYEBABKAN STRES BAGI BANYAK ORANG, MENYEBABKAN KECEMASAN, BAHKAN DEPRESI," kata dr BRYAN BRUNO, kepala departemen psikiatri di Lenox Hill Hospital di New York.



Mengurangi kebohongan tak hanya buruk untuk hubungan, tetapi untuk diri Anda sebagai individu. Banyak orang telah melihat dampak merugikan dari berbohong terhadap hubungan, namun tak menyadari akibat lanjutan dari kebohongan itu, bahwa BERBOHONG AKAN MENGAKIBATKAN STRES INTERNAL, jelas Bruno.

Di akhir studi selama 10 minggu itu, beberapa partisipan telah mendapati cara-cara lebih cerdas untuk menghindari kebohongan.

Kelly melihat, banyak partisipan yang mengungkap prestasi harian dengan cara sederhana ketimbang mengungkapnya secara berlebihan. Ada pula responden yang akan merespon pertanyaan-pertanyaan sulit dengan pertanyaan lain untuk mengalihkan perhatian penanya pertama. Para responden juga berhenti mencari alasan bohong atas keterlambatan atau ketika tidak berhasil menyelesaikan tugas.

"Saya rasa, kebohongan ringan tidak ubahnya kebohongan besar. Tujuan utama penelitian ini bukan harus hidup tanpa bohong sama sekali, tetapi mengurangi kebiasaan berbohong. Apa yang bisa orang lakukan adalah berjanji untuk mengurangi kebohongan," kata Kelly.

Sumber: Unikbaca.com

Penelitian Baru Tidur Dalam Kelas Sangat Mencerdaskan


Sebuah penelitian baru mengungkap bahwa tidur dalam kelas itu setelah belajar itu mencerdaskan. Penelitian baru tidur dalam kelas ini, diungkapkan dalam sebuah studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal Public Library of Science One. Tim peneliti dari University of Notre Dame, Indiana, menemukan sebuah fakta bahwa tertidur setelah menerima pelajaran di kelas membuat sistem pencernaan informasi menjadi lebih mudah. Mereka melakukan serangkaian uji coba terhadap 208 siswa yang biasa tidur selama 6 jam setiap malam. Mereka memberikan serangkaian pasangan kata yang saling terhubung, seperti api dan asap, atau kata yang benar-benar tidak berhubungan seperti serangga dan kebohongan. Setelah itu mereka diminta menghapal kata-kata tersebut dengan waktu yang berbeda. beberapa mempelajari pada pukul 9 pagi, sementara yang lain pada pukul 9 malam.

Peneliti kemudian menguji kemampuan ingatan mereka dengan waktu istirahat (break) yang berbeda, antara 30 menit, 12 jam hingga 24 jam. Pada 30 menit pertama, hasil yang diperoleh dari seluruh peserta tidak terlalu berbeda, namun setelah break selama 12 jam, termasuk di dalamnya tidur di malam hari, ingatan para peserta mengenai pasangan kata yang tidak berhubungan meningkat cukup baik.

Selanjutnya, para siswa kemudian diberikan waktu istirahat selama 24 jam sebelum akhirnya diberikan tes untuk kedua kalinya. Pada saat ini, mereka yang tertidur setelah mempelajari dan menghapal pasangan kata mendapatkan nilai yang lebih baik dalam kedua kategori.

Dengan demikian, peneliti menyimpulkan bahwa tidur setelah belajar atau menerima informasi baru sangat bermanfaat untuk ingatan seseorang. "Studi kami mengkonfirmasikan bahwa tidur setelah belajar sesuatu yang baru sangat bermanfaat untuk memori," kata Jessica Payne, seorang psikolog yang terlibat dalam studi tersebut.

Sumber: unikbaca.com

Rabu, 08 Mei 2013

Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing... (Mengencingi Guru?)



Sahabat, ada anekdot: jika mental guru bobrok, bisa disogok dengan uang seonggok, maka isi kepala muridpun menjadi penyok-penyok, nggak berbentuk. Mengapa demikian? Terkadang, sebagai insan yang pernah dilahirkan di lingkungan guru dan bahkan pernah bersekolah di pendidikan guru, hingga pernah mengajar di beberapa sekolah; saya sangat perihatin jika ada orang menyinggung - ‘menyambangi ‘ranah pendidikan dan pengajaran hanya dengan ‘nada’ sentimental. Menyinggung dengan sentimental, seolah bahwa pendidikan itu semata berhasil dan tidaknya hanya di tangan seorang yang bernama guru [1].

Menyinggung ranah pendidikan dengan sentimental, juga dimaksudkan, ketika orang hanya memandang sebelah mata, sewaktu membicarakan tentang ‘nasib’ guru, murid dan segala perangkat kerja yang ada di dalamnya. Kita mungkin belum sadar, jika dalam pendidikan, kita sedang mempertaruhkan masa depan bangsa kita [2].

Lalu, mengapa pemerintah, bahkan sejak menteri Pendidikan dan Kebudayaan (istilah saat itu) DR. Daoed Josoef menggembar-gemborkan inovasi pendidikan, hingga dibentuklah Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional? [3]

Ada apa dengan pendidikan kita? Ada yang perlu dibenahi, itu pasti. Mungkin benar, bahwa kita nggak pernah mau belajar dari para pendahulu kita, seperti Hatta, Agus Salim dan Sjahrir. Mereka mempunyai pengharapan bahwa dalam pendidikan juga mementingkan pendidikan yang menekankan pencerahan, pendidikan yang mengajak berpikir secara rasional, pendidikan yang bernurani yang mengutamakan kepentingan bangsa. Tak heran, jika sekarang pola pikir manusia (sebagian) sudah tercemari dengan pola pikir yang berorientasi, pada materi, kursi…. ataupun hal yang lainnya[4].

Saya, Anda, orang tua, guru dan masyarakat pada umumnya, itulah yang ikut membenahi. Membenahi dalam arti memberi nilai dan makna proses pembelajaran dan pendidikan secara positif. Sehingga proses itu tak hanya berujung pada kata LULUS, TAMAT, SELESAI pun pada kata TUNTAS. Proses pendidikan yang dapat mencerahkan, dan membawa manusia berpikir rasional dan berpikir bagi kepentingan masyarakat luas, bangsa pada umumnya, itulah yang diupayakan.

Akhirnya, saya hanya bisa berharap. Semoga pendidikan di negeri ini mampu meningkatkan kecerdasan anak, dalam olah pikir yang sehat , olah pikir yang bernurani. Tanpa kemampuan olah pikir yang sehat dan bernurani sehat pula, jangan heran jika anekdot mental guru bobrok, isi kepala murid penyok-penyok. Atau, jika guru kencing berdiri (dulu murid kencing berlari), kini bisa jadi guru kencing berdiri, murid mengencingi guru; anekdot itu akan menjadi kenyataan. Semoga tidak ya…. tidak menjadi kenyataan, bahwa ada murid kencing, mengencingi guru. Saya malu.



Sumber:
anehtapinyata

Rabu, 13 Januari 2010

CITRA GURU

MEMBANGUN CITRA GURU MENUJU SEKOLAH EFEKTIF

(oleh: Drs. Anton Sunarto, BTh, MPd).

Saat Perang Dunia II, setelah Nagasaki dan Hiroshima di bom oleh sekutu, langkah pertama yang ditempuh pemerintah Jepang , mendata kembali berapa jumlah Guru dan Dokter yang tersisa. Mereka mulai membangun negara yang porak-poranda dari bidang pendidikan dan kesehatan. Hasilnya sangat menakjubkan. Setelah kurang lebih 20 tahun, dengan kerja keras yang tak kenal lelah, Jepang mempu mensejajarkan negaranya dengan negara-negara maju lainnya. Lahirlah kekuatan baru di kawasan Asia saat itu. Untuk bidang pendidikan di kawasan Asia, Jepang juga sebagai negara terbaik, di samping India, Korea selatan dan Singapura.

Kisah nyata itu menyadarkan kita, betapa besar peran Guru dalam membangun suatu bangsa. Ironisnya, di negara kita tercinta, profesi guru,peran guru, kurang diperhitungkan. Malah cenderung dikesampingkan. Pada masa regim Orde Baru profesi guru malah identik dengan kemiskinan, ketidakberdayaan, kelompok masyarakat yang tahan lapar. profesi guru tidak membanggakan. Guru adalah imput pelarian dari anak miskin yang tidak berkecukupan, potret OEMAR BAKRI si wagu tur kuru yang jauh dari pantas. Dalam masa itu, kelompok Guru tidak lebih dari sekedar alat politik dari regim yang berkuasa. Guru tidak lebih sekedar alat politik dari regim yang berkuasa. Untuk membius kelompok ini, regim berkuasa saat itu, menganugerahkan gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa //PTTJ dalam sebuah lagu. Dengan setengah sinis teman saya mengatakan sampai sekarang belum ada makam pahlawan untuk para guru.

CITRA Guru yang terbentuk di dalam dirinya sampai saat ini, menurut saya, bukanlah sosok berdasi, intelektual ulung dalam menyiapkan masa depan, tetapi sekedar sebagai pekerja suara yang berangkat subuh pulang malam, tetapi kering finansial. Praktis, citra guru teredusir sedemikian rupa di balik keagungan harapan yang meluap. Permasalahannya: bagaimana kita dapat membangun citra kita sendiri sebagai guru, agar peran dan profesionalitas kita terpenuhi?

Saat ini, apresiasi masyarakat semakin tinggi terhadap Guru, Pemerintah semakin sungguh-sungguh berupaya mensejahterakan Guru, media massa semakin gencar memberitakan tentang kinerja guru. Dari segi kemampuan ekonomis, guru tidak lagi dipandang sekedar sebagai pengamen. Diktator menjual diktat baru bisa beli motor. Atau Pelacur Profesi - setelah jam dinas bergilir memenuhi panggilan dari pintu ke pintu, sekedar mencari agar dapur tetap berasap.

Gagaimana dengan kita sendiri sebagai pelaku utama pendidikan? yang dalam UU Dosen dan Guru disebut tenaga profesional. Sama dengan dokter, Pengacara dan lain-lain? Banyak pernyataan kritis sering kita dengar, kita lihat, dan kita baca menyangkut eksistensi, kompetensi, dan kinerja kita sebagai tenaga profesional memang masih memprihatinkan.

Kenyataan rendahnya kompetensi, ethos kerja, dan kinerja guru, seperti dikemukakan oleh Fasli Djalal, Dirjen DIKNAS Peningkatan mutu Pendidik dan tenaga kependidikan menyebutkan hampir separo dari sekitar 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar di sekolah. 75.648 di antaranya guru SMA. Pernyataan itu disampaikan berkenaan dengan wacana guru profesional dan guru kompeten sebagai syarat untuk memperoleh tunjangan profesi guru dan peningkatan kwalitas pendidikan di Indonesia.

Pernyataan yang merujuk pada rendahnya kompetensi dan ethos kerja guru itu juga pernah diungkapkan oleh menteri pendidikan pada masa itu Wardiman Djoyonegoro dalam wawancara ddi TPI tanggal 16 Agustus. Dalam wawancara itu Ia mengemukakan hanya 43 % guru yang memenuhi syarat , artinya sebagian besar guru (57%) tidak atau belum memenuhi syarat, tidak kompeten, dan tidak profesional untuk melaksanakan tugasnya. Pantaslah kalau kwalitas pendidikan kita jauh dari harapan dan kebutuhan.

Kenyataan rendahnya kompetensi guru itu, tidak perlu malu untuk disikapi oleh para sendiri. Perlu dijadikan permenungan. Dari mana harus merubah citra guru? Kuncinya ada para guru sendiri. Bagaimana mereka akan menjadikan dirinya profesional. Itu kembali kepada para guru. Karena dihadapan kita terbentang lautan sumber pengetahuan yang tiada batas.

Bagaimana menjadi guru yang lebih profesional, efektif, dan bermutu, kata kuncinya pada ¡§perubahan¡¨. Kita semua membutuhkan perubahan. Termasuk para guru. Perubahan demi suatu keyakinan, dan demi ketangguhan profesi guru menjadi perkara yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Untuk menjadi lebih baik, tidak mungkin para guru hanya berpuas pada status quonya. Malas menambah wawasan. Dan merasa paling mengetahui banyak hal. Padahal, saat ini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahhuan bagi para siswa. Tidak sedikit guru yang tanggap akan tuntutan profesionalnya sebagai pendidik. Tetapi juga tidak kurang sedikit guru yang diam di zona nyaman. Malas meningkatkan ketrampilan dan profesionalismenya.

Mungkin ada ada satu hal yang perlu kita refleksikan, mengapa guru takut berubah. Atau malas berubah. Sebab-sebab paling dasar keraguan terhadap dampak dan efek dari entitas perubahan itu sendiri. Perubahan memunculkan ketegangan dan kerumitan. Perubahan mendatangkan stres dan tekanan.
***
MEMPERBAIKI CITRA GURU

Dalam kurun waktu dasawarsa terakhir, Pemerintah berupaya mendongkrak citra guru yang terlanjur pudar. Tujuan akhir tentu memperbaiki kwalitas pendidikan. Menjadi guru profesional bukan perkara gampang. Apalagi untuk menjadi guru baik. Citra guru yang baik, dapat mengangkat citra dan kwalitas pendidikan. Kwalitas pendidikan yang baik, dapat mengangkat martabat bangsa. Tetapi permasalahannya, dari mana harus dimulai?

1. Dari diri sendiri

Untuk memperbaiki citra guru, mereka harus berani ¡§membedah diri¡¨. Guru profesional itu, guru yang mengenal dirinya. Dirinya sebagai pribadi yang terpanggil untuk mendidik manusia. Untuk itu, guru dituntut untuk belajar sepanjang hayat (long life education). Medan belajar adalah medan yang menyenangkan. Menjadi guru bukan hanya sebuah proses yang harus dilalui melalui test kompetensi dan sertifikasi. Karena menjadi guru menyangkut perkara hati. Maka mengajar harusnya menjadi profesi hati. Hati harus mendapat perhatian cukup, yaitu pemurnian hati, atau motivasi untuk menjadi guru profesional. Pemurnian hati itu, akan mendorong kita senantiasa meningkatkan kemampuan untuk membelajarkan siswa.

Paling tidak ada 3 kata kunci yang menjadikan guru itu menjadi penting. Tiga kata kunci itu sekaligus menjadi sifat dan karakteristik guru: 1. Kreatif. 2. Profesional. 3. Menyenangkan.

Mengapa guru harus kreatiaf ? Karena harus memilah dan memilih materi pembelajaran. Dan kemudian secara kreatif menyajikan menjadi bahan pembelajaran yang yang penuh makna, dan berkwalitas. Sedang sifat profesional, karena guru harus secara profesional membentuk kompetensinya sesuai dengan karakter peserta didik. Juga bagi dirinya. Berarti belajar dan pembelajaran harus menjadi makanan pokok guru. Tetapi guru juga harus menyenangkan. Baik bagi dirinya sendiri maupun bagi peserta didik. Menjadi guru kreatif, profesional, dan menyenangkan itu akan terwujud, jika si guru mau secara terus-menerus meningkatkan kemampuan dan ketrampilan. Mau belajar.

2. Meningkatkan Pengetahuan dan Ketrampilan.

Guru sebagai profesional (sama dengan profesi dokter, pengacara, sekretaris, dan lain-lain), tanggungjawab utamanya mengawal perkembangan pribadi siswa. Peran pendampingan itu tidak mungkin akan berhasil jika guru tidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang profesioanal. Guru profesional biasanya memiliki hal-hal seperti ini:

"« Penguasaan terhadap pengetahuan dan ketrampilan.

"« Memiliki kemampuan profesional di atas rata-rata.

"« Idealisme dan pengengabdian yang tinggi.

"« Pantas secara moral dan perilaku menjadi panutan.

Pribadi guru yang kreatif, profesional, dan menyenangkan, terus berupaya untuk membangun citra dirinya secara positif. Berkomitmen pada pengabdian pada pendampingan kepada peserta didik. Ia selalu berupaya meningkatkan kemampuan dan ketrampilan sebagai profesional dan pendidikan. Maka dalam proses pembelajaran di kelas selalu mencari bentuk-bentuk kreatif dan efektif bnagi dirinya dan bagi peserta didik.

Guru kreatif akan mewujudkan pembelajaran yang inovatif. Guru kreatif dan pembelajaran inovatif dapat mewujudkan sekolah efektif.
Sumber : Homepage Pendidikan Network

GURU

Syarat Jadi Guru

Sebagian orang mungkin menganggap pekerjaan guru sangatlah mudah, hanya sekedar mengajar. Menerangkan materi yang ada dibuku kepada siswa. Namun sebenarnya menjadi guru yang baik tidaklah hanya sebatas itu, masih banyak yang perlu di perhatikan. Untuk menjadi guru yang baik dan dapat melaksanakan pembelajaran dengan sebaik-baiknya, seorang guru dituntut untuk memiliki kualitas yang dituntut dari profil seorang guru, seperti:
1) memiliki kepribadian,
2) memiliki pengetahuan dan pemahaman profesi kependidikan,
3) memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bidang spesialisasi,
4) memiliki kemampuan dan ketrampilan profesi.

Di samping itu guru juga dituntut untuk memiliki beberapa kemampuan seperti:
a. menguasai materi pembelajaran dan kemampuan untuk memilih, menata, dan mengemas materi pelajaran ke dalam cakupan dan kedalaman yang sesuai dengan sasaran kurikuler yang mudah dicerna oleh siswa
b. memiliki penguasaan tentang teori dan ketrampilan mengajar
c. memiliki pengetahuan tentang masa pertumbuhan dan perkembangan siswa serta memiliki pemahaman tentang bagaimana siswa belajar

1. Penguasaan materi pelajaran sebagai dasar kemampuan guru untuk melakukan proses pembelajaran. Penguasaan materi pelajaran sebagai dasar kemampuan guru untuk melakukan proses pembelajaran.
Anda mungkin pernah melihat guru yang tidak bisa berbicara jika dia sudah berdiri di muka kelas, atau berbicara tetapi bersifat mengulang-ulang kata/materi yang sudah diajarkannya, hal ini tentu saja bukan diakibatkan karena guru tersebut merasa nervous, rendah diri atau merasa bingung dengan apa yang akan diajarkannya. Hal ini mungkin juga pernah terjadi pada diri Anda, jika Anda tidak mengetahui topik/bahan pelajaran apa yang akan dibicarakan, atau bisa juga karena tidak meguasai materi yang akan diajarkan. Jika hal ini terjadi, bukan saja proses pembelajaran menjadi tidak menarik, tetapi juga bersifat monoton, siswa tidak tertarik untuk menyimak pelajaran yang sedang diajarkan guru, mereka cenderung akan asyik dengan dunianya masing-masing seperti mengobrol, bercanda, dan lain-lain. Jika hal ini terjadi secara terus menerus selama proses pembelajaran berlangsung, maka pelajaran yang disampaikan menjadi tidak menarik, tidak efektif, sehingga siswa tidak memahami apa yang telah disampaikan, dan pada akhirnya akan berakibat pada hasil penilaian siswa yang rendah, hal ini tentu saja dapat menumbuhkan pandangan negatif terhadap guru tersebut karena dinilai telah gagal dalam mendidik para siswanya.

Guru yang profesional tidak akan mengalami hal seperti ini, sebab sebelum mulai mengajar mereka telah benar-benar mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, baik dari segi adminstrasi seperti membuat persiapan mengajar, membuat program pembelajaran, media pembelajaran, maupun dari segi edukatif, seperti menguasai materi pelajaran, metode dan teknik pembelajaran.

Guru juga harus memiliki kemampuan untuk memilih, menata, dan mengemas materi pelajaran ke dalam cakupan dan kedalaman yang sesuai dengan sasaran kurikuler dan kemampuan daya tangkap sehingga mudah dicerna oleh siswa, dengan demikian proses pembelajaran menjadi menarik karena bersifat terarah, apalagi dilengkapi dengan media pembelajaran yang menarik, disampaikan secara lugas, tidak berbelit-belit, dan banyak melibatkan siswa.

2. Memiliki Penguasaan Teori dan Ketrampilan Mengajar.
Apakah untuk menjadi guru yang baik dan berhasil harus ada syarat lain selain penguasaan materi pembelajaran? Ya benar, sebab selain guru harus menguasai materi pelajaran, masih ada syarat lain yang harus dipenuhi guru yaitu memiliki penguasaan tentang teori dan ketrampilan mengajar. Ada beberapa ketrampilan yang harus dikuasai guru antara lain:
A. Ketrampilan menjelaskan;
Penjelasan materi pelajaran yang mudah dipahami siswa merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran, oleh sebab itu guru diharapkan mampu mengorganisasikan materi pelajaran dengan perencanaan yang sistematis, sehingga mudah dipahami oleh siswa.

Ketrampilan ini bertujuan untuk:
• membantu siswa dalam memahami konsep, hukum, prinsip, atau prosedur
• membantu siswa menjawab pertanyaan
• melibatkan siswa untuk berpikir
• mendapatkan balikan dari siswa
• membantu siswa menghayati proses nalar

Ketrampilan menjelaskan terdiri dari:
a. komponen perencanaan, seperti: pokok-pokok materi pelajaran, dan hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik siswa
b. komponen penyajian, seperti: kejelasan bahasa, berbicara, mendefinisikan istilah, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan pada bagian-bagian yang penting, dan balikan tentang penjelasan yang disajikan dengan melihat mimik siswa saat mengajukan pertanyaan.

Hal-hal apa sajakah yang perlu Anda perhatikan dalam menerapkan ketrampilan menjelaskan:
• penjelasan diberikan pada awal, tengah, ataupun akhir pembelajaran
• harus relevan dengan tujuan
• materi penjelasan harus bermakna
• penjelasan harus sesuai dengan kemampuan dan latar belakang siswa.
B .Ketrampilan memberi penguatan;
Ketrampilan memberi penguatan baru akan nampak pada saat guru memberikan respon terhadap munculnya tingkah laku siswa yang bernilai positif, sehingga dapat meningkatkan perhatian dan motivasi belajar siswa kearah yang lebih positif.

Penguatan dapat diberikan dalam bentuk verbal (kata-kata/pujian), dan non verbal, seperti: gerakan mendekati, mimik dan gerakan badan, sentuhan, dan kegiatan yang menyenangkan siswa (audience).

C. Ketrampilan bertanya;
Mengapa guru harus memiliki ketrampilan bertanya?
Hampir semua kegiatan proses pembelajaran berlangsung dengan tanya jawab. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran yang dilaksanakan guru dapat belangsung secara timbal balik, tidak membosankan, sekaligus guru dapat memantau siswanya. Kualitas pertanyaan guru menggambarkan kualitas jawaban siswa, oleh sebab itu guru yang terampil dalam bertanya, akan mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Bertanya yang baik diperlukan ketrampilan tersendiri, sehingga pada saat guru bertanya kepada siswa, mereka tidak merasa seolah-olah sedang diadili.

Teknik tersebut antara lain:
a. Mengubah tuntutan tingkat pengetahuan dalam menjawab pertanyaan
b. Memberikan pertanyaan dari yang sederhana ke yang komplek
c. Menggunakan pertanyaan pelacak dengan berbagai teknik
d. Meningkatkan interaksi dengan cara meminta siswa lain memberikan jawaban atas pertanyaan yang sama.
D. Ketrampilan mengadakan variasi pembelajaran;

Ketrampilan jenis ini harus dimiliki guru dengan tujuan untuk mengadakan variasi guna melakukan perubahan dalam proses kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa, serta mengurangi rasa jenuh dan bosan selama mengikuti proses pembelajaran.

Ketrampilan mengadakan variasi meliputi:
• variasi dalam gaya mengajar
• variasi dalam penggunaan media dan bahan pelajaran, dan
• variasi dalam pola interkasi dan kegiatan

E.Ketrampilan membuka dan menutup pelajaran;
Kegiatan pembukaan dilakukan guru untuk menciptakan suasana yang dapat menimbulkan kesiapan mental siswa agar termotivasi terhadap pelajaran yang akan diberikan guru. Kegiatan ini bisa berbentuk appersepsi, pretes, atau tanyajawab terhadap materi yang lalu atau materi yang akan diberikan.

Sedangkan kegiatan penutup adalah kegiatan terakhir yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran.
Tujuan dari ketrampilan membuka dan menutup pelajaran adalah:
a. menumbuhkan semangat, motivasi, dan perhatian siswa
b. agar siswa menyadari batas-batas tugasnya
c. agar siswa memahami hubungan antar materi yang telah disampaikan guru
d. agar siswa menyadari tingkat keberhasilan yang telah dicapainya.
Kegiatan membuka pelajaran terdiri dari aspek:
a. dapat menarik perhatian siswa
b. dapat menimbulkan motivasi
c. memberikan acuan
d. membuat kaitan
Kegiatan menutup pelajaran terdiri dari:
a. membuat rangkuman/ringkasan
b. melaksanakan evaluasi akhir pelajaran
c. memberikan tindaklanjut
F. Ketrampilan mengelola kelas.

Ketrampilan ini harus dimiliki guru dalam rangka menciptakan dan mempertahankan situasi kelas yang kondusif dan menyenangkan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Di samping itu ketrampilan ini bermanfaat bagi guru terutama untuk:
a. mendorong siswa agar dapat bertanggungjawab baik secara individu /klasikal terhadap perilakunya
b. menyadari kebutuhan siswa
c. memberikan respon yang efektif terhadap perilaku siswa
3. Memiliki pengetahuan tentang masa pertumbuhan dan perkembangan siswa serta memiliki pemahaman tentang bagaimana siswa belajar.

Untuk dapat memahami anak didik dengan baik, seorang guru harus dapat memahami hakikat pertumbuhan dan perkembangan mereka serta memahami karakteristik anak didiknya. Hal ini disebabkan karena siswa sebagai manusia mengalami perubahan-perubahan fisik, interaksi sosial, kemampuan mengingat, kemampuan emosional, kemampuan intelektual, kemampuan kognitif, afektif, dan kemampuan psikomotor. Dengan dikuasainya pemahaman anak didik oleh guru, akan memudahkan guru tersebut dalam melaksanakan proses pembelajaran sebab guru akan dapat memberikan materi yang sesuai dengan masa pertumbuhan dan perkembangan siswa. (Masofa)